Connect with us

Daerah

Peningkatan Kasus Kematian Covid-19 Jadi Perhatian Dinkes

Published

on

Peningkatan Kasus Kematian Covid-19 Jadi Perhatian Dinkes
Kepala Dinas Kesehatan Berau, Iswahyudi saat ditemui awak media

MEDIAONLINE.ID, TANJUNG REDEB – Kasus Covid-19 di Bumi Batiwakkal mengalami penurunan dalam beberapa minggu terakhir, namun kasus kematian menunjukan peningkatan. Menurut data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, dalam dua bulan belakangan, jumlah kasus kematian nyaris sama dengan kasus kematian sejak Maret 2020 – Juni 2021.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Berau, Iswahyudi yang dikonfirmasi pada Jumat (20/8/2021) menuturkan, ini yang merupakan menjadi konsentrasi bagi pihak Dinkes. Pasalnya, meskipun angka kesembuhan meningkat. Namun, masih dibayangi oleh angka kematian yang nyaris setiap hari selalu dirilis olehnya.“Nah ini yang menjadi konsen kami. Artinya, masih banyak terjadi orang-orang yang ingin merawat sendiri keluarganya,” tuturnya.

Ia mengatakan, saat keluarga pasien isoman sudah tidak mampu menangani, dan saturasi pasien sudah di bawah 70, hal ini kemungkinan besar akan berujung pada kematian bagi si pasien. Saat ini diakuinya, tidak sedikit pasien isoman yang meninggal dunia,

“Begitu meninggal, kami dituduh mengcovidkan,” tegasnya.

Iswahyudi menuturkan, pihaknya sudah melakukan edukasi kepada masyarakat. Ia mengatakan, oksigen yang diberikan kepada pasien Covid-19, berbeda dengan orang yang kurang napas. Hal ini dikarenakan, orang yang kurang napas seperti sehabis olahraga, kemudian drop, itu organ tubuhnya tidak terjadi apa-apa. Berbeda dengan pasien Covid-19, Pasien Covid itu yang rusak paru-parunya.

“Biar diberikan oksigen, kalau paru-paru sudah putih, banyak radangnya. Tidak bisa dia mengikat oksigen. Itu yang orang tidak tahu,” bebernya.

Ia menjelaskan, positif itu bukan hanya sekedar garis dua. Juga didukung oleh radiologi, alat lab dan kondisi fisik pasien. Tiga ini yang bermain penting dalam kesembuhan pasien Covid-19. Tidak hanya sekedar dinyatakan terkonfirmasi, dan pihak rumah sakit lepas tangan.

BACA JUGA :  RSUD Akan Operasikan Alat PCR

“Kalau saturasi di bawah 90, susah diapa-apakan. Biar pakai HNFC dosis tinggi, tidak mampu. Bukan lambat pertolongan, tapi lambat dirujuk,” tegasnya.

Ia mengatakan, jika pasien isoman, kemudian keluarga pasien menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) standar, tentu juga akan mempengaruhi terhadap kondisi keluarga yang merawat. Diakuinya, memang ini menjadi ironi, terlebih jika yang sakit merupakan orangtua. Tentu, seorang anak ingin berbakti dan tidak memandang pada kondisi si pasien.

“Kembali kepada psikologi masing-masing. Itu yang berat, dimensi dari Covid-19 ini tidak bisa main-main,” jelasnya.

Disinggung mengenai, kapan pandemi akan berakhir, Iswahyudi mengatakan, kecuali Tuhan memang angkat Covid ini dari Berau. pihaknya cuma berusaha, tapi Tuhan yang nentukan. “Buat warga yang isoman, tidak punya tempat, kami siap bantu. Kalaupun narik semua, tempat kita tidak mampu juga,” pungkasnya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *