Connect with us

Nasional

MUI Berau Belum Terima Fatwa Terkait Vaksin AstraZeneca

Published

on

MUI Berau Belum Terima Fatwa Terkait Vaksin AstraZeneca
MUI ( Istimewa )

MEDIAONLINE.ID, TANJUNG REDEB – Terkait ramainya pembahasan tentang halal atau haramnya vaksin Covid-19 jenis AtraZeneca. Majelus Ulama Indonesia (MUI) Berau mengaku belum menerima fatwa tentang vaksin tersebut dari MUI pusat

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Berau, Syarifuddin Israil menuturkan, pihaknya belum bisa memutuskan halal atau haramnya vaksin tersebut. Dikarenakan, hingga saat ini belum ada fatwa resmi yang diterima dari MUI pusat mengenai hal tersebut.

“Kita belum terima itu,” Ucapnya jumat (27/8/2021).

Ia menegaskan, untuk halal atau haramnya, masih menunggu keputusan dari MUI Pusat. Ia mengaku tidak berani mengeluarkan statement mengenai hal tersebut. Ia mengaku takut untuk mengklaim vaksin tersebut halal atau haram.

“Saya tidak berani klaim sembarangan, apalagi sampai menyesatkan umat. Kita tunggu saja keputusan MUI Pusat,” bebernya.

Ia melanjutkan, saat ini pihaknya belum berani berkomentar banyak mengenai masalah vaksin astra zeneca yang diisukan haram. Bahkan, dibeberapa kota besar pun seperti Samarinda, masyarakatnya menolak untuk divaksin astra zeneca.

“Belum berani berkomentar banyak saya,” singkatnya.

Vaksin astra zeneca, sempat menghebohkan masyarakat, dengan adanya isu bahwa vaksin tersebut haram, untuk disuntikan ke tubuh manusia. “Tunggu dari MUI Pusat ya,” ungkapnya.

Sementara itu, ditempat terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Berau Iswahyudi menuturkan, terlepas dari halal atau harmanya vaksin, secara medis vaksin merupakan kebutuhan darurat untuk melawan Covid-19. Mengingat hingga saat ini capaian vaksin di Kabupaten Berau baru menyentuh angka 22 persen.

“Angka ini masih jauh dari target untuk mencapai herd immunity yakni 70 persen,” jelas Iswahyudi.

Ia melanjutkan, meskipun Berau kedepannya telah mencapai herd immunity, namun tetap tidak menutup kemungkinan untuk seseorang bisa terpapar Covid-19. Namun, meskipun seorang tersebut terkonfirmasi, tidak parah.

BACA JUGA :  Percepat Vaksinasi, TNI AU Beri 20.000 Vaksin Untuk Kabupaten Berau

“Jangan beranggapan setelah divaksin akan kebal. Tetap jaga prokes,” tegasnya.

Iswahyudi mengatakan, dari 100 orang yang divaksin, dua hingga lima orang masih bisa terpapar. namun gejalanya ringan. Tidak parah seperti orang yang belum divaksin. Selain itu, tingkat imun seseorang juga mempengaruhi kekebalan tubuh.

“Intinya, sehat itu murah. Patuhi prokes,” pungkasnya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *